TPP KABUPATEN PESAWARAN

SELAMAT DATANG MEDIA PUBLIKASI TPP KABUPATEN PESAWARAN LAMPUNG TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGANNYA.

Senin, 20 April 2026

Menjadi "Kartini" di Tengah Debu Jalanan Desa

Kalau bicara soal Hari Kartini, pikiran kita seringnya langsung melompat ke soal emansipasi perempuan. Tapi kalau kita tarik ke ranah tugas kita sebagai Pendamping Desa, spirit Kartini itu sebenarnya bicara tentang sesuatu yang lebih luas: Keberanian untuk mengubah keadaan.

​Berikut adalah beberapa poin refleksi santai untuk kita renungkan bersama:

​Literasi Bukan Cuma Soal Baca Tulis

Kartini dulu berjuang lewat surat-suratnya. Sekarang, tugas kita hampir mirip, tapi medianya beda. Kita berjibaku dengan regulasi, Siskeudes, hingga aplikasi laporan yang kadang bikin pusing. Tapi ingat, di balik tumpukan data itu, ada misi "pencerahan". Mengedukasi perangkat desa dan warga agar paham aturan itu adalah bentuk modern dari membebaskan masyarakat dari ketidaktahuan. Kita adalah "penyambung lidah" kebijakan pusat agar sampai ke telinga warga dengan bahasa yang manusiawi.

Diplomasi di Balik Meja Musdes

Kartini dikenal dengan caranya yang halus tapi tegas dalam mengkritik ketidakadilan. Sebagai pendamping, kita sering berada di posisi "tengah". Di forum Musdes, spirit Kartini hadir saat kita berani memastikan bahwa suara ibu-ibu PKK, kader posyandu, atau kelompok rentan tidak cuma jadi pelengkap absen. Memberi ruang bagi mereka untuk bicara adalah emansipasi nyata di level akar rumput.

​Sabar Adalah Koentji

Kita tahu sendiri, mengubah pola pikir di desa itu tidak bisa instan. Ada tradisi yang kuat, terkadang ada juga ego sektoral. Kartini mengajarkan kita bahwa perubahan besar dimulai dari langkah-langkah kecil yang konsisten. Jadi, kalau usulan pemberdayaan kita ditolak hari ini, ya jangan langsung baper. Besok kita coba lagi dengan pendekatan yang lebih santai, mungkin sambil ngobrol di pematang sawah atau di warung kopi.

​Bukan Tentang Siapa yang Paling Hebat

Kartini tidak ingin jadi pahlawan sendirian; dia ingin kaumnya maju bersama. Begitu juga kita. Keberhasilan pendamping desa itu bukan saat kita terlihat paling pintar di depan Kepala Desa, tapi saat warga sudah bisa mengelola BUMDes-nya sendiri tanpa perlu kita "suntik" terus-menerus. Exit strategy terbaik adalah saat kehadiran kita sudah tidak dibutuhkan lagi karena desa sudah mandiri.

Sebagai penutup dengan Menjadi Pendamping Desa itu memang melelahkan. Debu jalanan, hujan, dan laporan yang sering datang mendadak adalah menu harian. Tapi, spirit "Habis Gelap Terbitlah Terang" itu nyata setiap kali kita melihat ada jembatan yang selesai dibangun, anak stunting yang tertangani, atau warga yang punya penghasilan tambahan.

​Jadi, selamat merayakan semangat Kartini dengan cara kita sendiri: tetap sabar mendampingi, tetap gigih mengedukasi, dan tetap santai dalam berdedikasi.







(Khairul 180908 TPP.Pesawaran)

5 komentar:

  1. Jadikan hari Kartini sebagai momentum untuk membangkitkan gairah membangun Desa.

    BalasHapus
  2. Habis Gelap Terbitlah Terang,Semangat Untuk Wanita-wanita Hebat

    BalasHapus
  3. Semangat berjuang bersama-sama. Kerja cerdas berkualitas

    BalasHapus
  4. Semoga bs menjadikan kita kaum wanita untuk berkarya,tanpa lupa sebagai kodrat wanita.

    BalasHapus
  5. Memang tidak dapat dipungkiri, jika perempuan itu selain indah juga sebagai Tiang Negara; "Perempuan Tangguh Indonesia Kuat"

    BalasHapus

Menjadi "Kartini" di Tengah Debu Jalanan Desa

Kalau bicara soal Hari Kartini, pikiran kita seringnya langsung melompat ke soal emansipasi perempuan. Tapi kalau kita tarik ke ranah tugas ...