KETAHANAN
PANGAN PENGGEMUKAN KAMBING
Peran
Tenaga Pendamping Profesional (TPP) dalam Program:
1.
Perencanaan:
·
Fasilitasi Musyawarah Desa :
TPP memfasilitasi musdesus ketahanan pangan untuk mengidentifikasi potensi dan
masalah, sehingga program penggemukan kambing muncul sebagai prioritas usulan
yang partisipatif.
·
Penyusunan Rencana Kerja:
TPP membantu BUMDes dan perangkat desa menyusun Rencana Kerja dan Rencana
Anggaran Biaya (RAB) yang detail, realistis, dan akuntabel. TPP memastikan
perencanaan mencakup aspek teknis pemeliharaan, pemasaran, dan pengelolaan
keuangan.
·
Penyusunan Dokumen: TPP
mendampingi penyusunan Dokumen Usulan Kegiatan dan laporan-laporan perencanaan
lainnya sesuai dengan pedoman Dana Desa.
2.
Pelaksanaan:
·
Pendampingan Teknis: TPP
menyarankan BUMDes untuk bekerja sama dengan penyedia bibit kambing unggul dan
mantri hewan dari UPT Pertanian dan peternakan Kecamatan Way Ratai untuk
pelatihan teknis tentang pemberian pakan, pengendalian penyakit, dan
perkandangan yang baik.
·
Penguatan Kelembagaan
BUMDes: TPP mendampingi BUMDes dalam membuat sistem pencatatan keuangan yang
sederhana dan transparan, serta prosedur operasional standar (SOP) untuk
pemeliharaan kambing.
·
Monitoring Rutin: TPP
melakukan pemantauan langsung ke lapangan setiap bulan untuk memastikan program
berjalan sesuai rencana, mengidentifikasi kendala sejak dini, dan bersama-sama
mencari solusi.
3.
Pelaporan:
·
Pembuatan Laporan Akuntabel:
TPP membantu BUMDes menyusun Laporan Realisasi Kegiatan dan Laporan
Pertanggungjawaban Keuangan (LPJ) Dana Desa yang mudah dipahami, transparan,
dan sesuai dengan peraturan.
·
Pemanfaatan Sistem
Informasi: TPP memandu operator desa dalam menginput data pelaksanaan dan
pelaporan ke dalam Form ketahanan pangan.
·
Diseminasi ke Masyarakat:
TPP mengingatkan pentingnya sosialisasi laporan kepada masyarakat melalui papan
informasi atau musyawarah desa untuk menjaga akuntabilitas publik.
Latar
Belakang :
Desa Mulyosari Kecamatan Way Ratai memiliki potensi peternakan kambing yang belum tergarap secara optimal. Sebagian besar warga beternak secara tradisional dengan skala kecil, sehingga kurang berdampak signifikan pada ekonomi keluarga. Di sisi lain, permintaan daging kambing yang stabil, terutama dengan ada nya program pemerintah pusat berupa Makan Bergizi Gratis (MBG) dan kebutuhan daging menjelang hari-hari besar keagamaan, menjadi peluang ekonomi yang menjanjikan. Melalui Dana Desa, Pemerintah Desa berinisiatif untuk menciptakan program yang tidak hanya meningkatkan pendapatan ekonomi tetapi juga memperkuat ketahanan pangan masyarakat desa melalui penyediaan sumber protein hewani yang berkelanjutan.
Pelaksana/pengelolaKegiatan
BUM Desa
Mulya Jaya
Pelaksanaan
Kegiatan
· Dana Desa digunakan untuk
pembelian 100 ekor bibit kambing betina jenis kambing Domba, pembangunan
kandang komunal, pembelian peralatan pakan dan pembelian pakan hijauan dan konsentrat
untuk tahap awal.
·
Pakan hijuan dibeli dari
masyarakat setempat yang sebelumnya di sosialisasikan untuk menanam odot pada
lahan lahan yang tidak produktif
·
Kambing dikelola di dalam
satu kandang dengan jumlah tenaga kerja 3
(tiga) orang dari keluarga penerima manfaat di bawah supervisi BUMDes.
·
Pemeliharaan dilakukan
dengan sistem intensif dengan pakan kombinasi antara hijauan (dibeli dari
warga) dan konsentrat.
·
Masa penggemukan ditargetkan
selama 4-5 bulan per siklus.
Pelaksanaan
program penggemukan kambing yang diinisiasi melalui Dana Desa Tahun Anggaran
2025 diperkiraakan berdasarkan analisa usaha Dari total 100 (seratus) ekor
bibit kambing yang dibeli dan dikelola secara intensif oleh BUMDes Mulyo Jaya
Dengan harga jual rata-rata Rp 1.500.000,- (satu juta lima ratus ribu rupiah) per ekor, program ini di perkirakan meraup pendapatan kotor sebesar Rp 150.000.000,- (seratus lima puluh juta rupiah) per 4 bulan . Keberhasilan finansial ini tidak hanya menjadi angka di atas kertas, melainkan bukti nyata dari efektivitas pengelolaan dana desa dan potensi ekonomi lokal yang dapat digali secara maksimal. Pencapaian ini menjadi fondasi yang kuat bagi keberlanjutan dan pengembangan program di masa mendatang, sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat Desa.
Dampak/outcome
:
· Ekonomi : Peningkatan
pendapatan bagi keluarga penerima manfaat dari penjualan pakan hijaun.
· Ketahanan Pangan : Tersedianya
stok daging kambing berkualitas di tingkat desa, yang dapat memenuhi kebutuhan
konsumsi masyarakat.
· Kelembagaan: Penguatan
kapasitas BUMDes dalam mengelola usaha peternakan yang modern dan
berkelanjutan.
· Lingkungan: Pemanfaatan
limbah kotoran kambing menjadi pupuk organik untuk pertanian warga.
a. Penerima
Manfaat :
· Langsung : 5 kepala keluarga
dari kelompok masyarakat berpenghasilan rendah yang terlibat sebagai penyuplay
pakan kambing berupa hijauan/dedaunan.
· Tidak Langsung : Seluruh
masyarakat Desa Mulyosari melalui kontribusi kepada PADes dan ketersediaan
pangan.
b. Kontribusi
pada PADesa:
BUMDes menerapkan sistem bagi hasil (75%
untuk kas BUMdes, 25% untuk PADes). Dari setiap penjualan kambing, dana yang
masuk ke kas BUMDes akan digunakan untuk perluasan usaha dan pembiayaan program
pembangunan lain yang diputuskan secara musyawarah.
c. Keterlibatan
pihak lain:
· Mantri Hewan dari UPT
Perkebunan dan Peternakan Way Ratai yang Memberikan pendampingan teknis
kesehatan hewan dan pemilihan bibit.
· Koperasi Merah Putih: kedepan
akan menjadi mitra dalam penyediaan pakan konsentrat seperti bungkil sawit,
bungkil kedelai, bungkil kopra dan bungkil jagung serta pemasaran hasil.
d. Pengembangan
Program/Jenis Usaha :
·
Menggandeng warga masyarakat
mulyosari untuk usaha pengemukan kambing
·
Pendirian rumah potong hewan
sederhana dan usaha olahan daging untuk meningkatkan nilai tambah.
·
Integrasi dengan pertanian
dengan memanfaatkan pupuk organik dari kotoran kambing.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar